Setiap orang pasti memiliki pencapaian.
Untuk meraih sesuatu yang kita inginkan, tentunya kita harus melewati proses
yang tak mudah. Ada usaha yang harus kita kerahkan untuk mencapai sesuatu,
meski hal itu harus membuat kita 'jungkir balik'. Namun, nyatanya, ada beberapa
orang yang lebih memilih untuk melakukan cara instan dalam mendapatkan
pencapaian itu.
Sungguh, pola pikir pragmatis ini sangat disayangkan
jika dibiarkan membudaya di Indonesia. Dalam lingkup kecil, saya baru merasakan
kerugian dari budaya pragmatis itu baru-baru ini. Sekitar satu minggu yang
lalu, kampus saya mengadakan lomba fotografi, yang mana foto-foto yang lolos
seleksi lomba akan ditampilkan di pameran selama satu minggu. Saya tidak
mengikuti kompetisi tersebut (meskipun saya suka fotografi), karena memang
tidak mempersiapkan diri untuk ikut serta. Jadi, saya hanya menjadi audiens
yang memberikan voting untuk foto-foto yang terseleksi di pameran.
Namun, betapa kagetnya saya, ketika melihat salah
satu foto hasil karya saya (yang saya posting di Instagram) terpajang di
pameran tersebut. Karena saya tidak mendaftar di lomba itu, otomatis saya
mempertanyakan. Betapa kecewanya saya ketika melihat nama yang terpajang di
bawah foto itu adalah nama orang lain, yang setelah diselidiki, ternyata orang
itu adalah adik kelas di jurusan saya. Saya tidak mengenal orang itu, tapi saat
itu, saya merasa dia sudah melanggar etiket sekaligus peraturan lomba karena
menggunakan HAK CIPTA orang lain tanpa izin. Di situ, saya langsung menemui panitia,
dan meminta untuk bertemu dengan orang yang sudah mengambil karya saya itu.
Pada akhirnya, foto itu didiskualifikasi dari lomba yang berlangsung.
Mungkin foto saya memang tidak sebesar karya foto
para fotografer profesional. Tapi, bagi saya, tetap saja karya itu memiliki
nilai. Di balik sebuah karya, ada perjuangan seseorang untuk menghasilkan karya
tersebut, yang mungkin tidak kita ketahui. Biasanya, kita hanya melihat secara
visual betapa bagus/jeleknya sebuah karya foto, tanpa memikirkan usaha sang
fotografer saat memotretnya. Buat saya, usaha itu berupa terjun ke pasar Glodok
siang hari dengan panas yang terik, dimarahi dan diteriaki orang, sampai pulang
larut malam dengan tubuh lelah demi menghasilkan foto Human Interest yang
dipakai seenaknya di lomba tersebut. Ditambah lagi, orang itu MENGKLAIM foto
tersebut sebagai miliknya dan diikutsertakan dalam lomba. Apa motivasinya? Jika
ia memang ingin menang dalam lomba tersebut, seharusnya ia berusaha dengan
tangannya sendiri, seburuk apa pun itu hasilnya.
Hal semacam ini mungkin tidak hanya terjadi dalam
kasus saya, tapi banyak seniman di luar sana yang karyanya diplagiat dan
diklaim seenaknya sebagai milik orang lain. Satu pesan saya, berusalah hargai
dirimu sendiri dengan cara mengapresiasi setiap usaha dan karya yang kamu buat.
Walaupun hasilnya tidak memuaskan, ada satu kelegaan dalam diri kita karena
mengerjakannya dengan tangan kita sendiri. Sekecil kamu mengikuti ujian,
walaupun kamu tahu jawabanmu mungkin tidak memberikan hasil yang sempurna, tapi
kamu sudah mengerahkan pikiranmu di sana, ketimbang kamu mencontek dan merasa
puas karena hasil ORANG LAIN.
Setiap orang adalah pemenang. Setiap orang bisa
mencapai apa yang ia inginkan. Tapi, cobalah untuk berusaha. Ingat, proses itu
indah walaupun membuat kita babak belur. Jadilah pemenang di jalan yang benar,
jadilah dirimu sendiri, karena dengan kejujuran itu, kamu tidak hanya bisa
menjadi pemenang secara fisik, tetapi juga batin. Jika kamu terus bergantung
dengan usaha orang lain, bersiaplah, kamu akan tertinggal jauh di belakang
ketika semua orang berlari begitu cepat di depanmu.
Kamu yang memilih.
0 komentar